Loading...

Jumat, 12 Maret 2010

Sang Motivator

"Tok.. Tok Tok Tok.. Tok Tok"

"Pada kemana yaa... Oe.. bangun !!!", kata suara di balik pintu.

Masih begitu pagi ketika pintu kantor diketuk. Setidaknya masih begitu pagi buat kami. Tapi untuk Jalan Gejayan, jam 6.00 bisa dibilang padat-padatnya. Lalu lintas di jalan ini hampir tak pernah tidur. Tapi suara bising mesin kendaraan sudah menjadi alunan musik klasik bagi makhluk-makhluk di Misi Computer. Bahkan suara klakson kadang kita anggap terompetnya musik ska atau seruling dangdutnya Evie Tamala. Kebangetan ya. Makanya jam segini masih nyenyak juga tidur kami. Cukup nyenyak, kalo saja tidak ada suara usil tadi.

Dan begitu mendengar ketukan tak beraturan, serta merta empat makhluk tergugah dari tidur dan setengah tidurnya. Mas Edi yang pertama bangun. Langsung berlari ke kamar dalam, untuk melanjutkan perjuangan tidurnya. Nyungsep dengan sempurna di samping Mas Budi yang lagi mimpi dikejar hansip.

Made yg tidur di jajaran kursi juga tergaket. Dia terbangun dengan gaya kungfunya Jacky Chan. Melompat dan segera lari ke dalam. Tidak peduli lagi kursi-kursi yang semalam berjasa menopang tubuhnya kini berhamburan tak tentu arah.

Aku yang terpaksa tidur di lantai beralas karpet dan tikar yang tinggal separoh juga terbangun mendadak, tapi tertahan di pintu tengah karena kalah dengan Made yang telah lebih dulu melayang ke dalam toilet. Sementara Joko yang tengah menikmati nyamannya meja komputer, hanya tergagap sayu sambil berusaha segera membukakan pintu depan.


"Mungkin pelanggan", pikirnya. Anak ini emang paling bertanggung jawab di Misi Computer (kalau terpaksa). Gak suka melarikan diri dari ketukan hangat di pagi hari oleh para pelanggan. Karena itulah dia sering ketiban perintah dari bos untuk tidur deket pintu... Lho?


Kantor Misi Computer emang payah abis. Ruang kerja kami berukuran 3x7 meter plus satu kamar dalam 2x3 meter. Bisa dibayangkan jika ada 5 makhluk hidup yang mencoba mempertahankan hidupnya, tidur bersama di ruangan tersebut.

Setiap malam dengan susah payahnya kami mengatur posisi komputer-komputer yang ada, melakukan make over ruangan kantor menjadi kamar tidur, karena kamar dalam sudah jelas punya Boss. Makanya setiap jam tidur, area tidur kami tak pernah sama. Selalu berubah. Kadangkala ada yang di lantai beralas karpet, di meja kerja yang ditata sedemikian rupa, di atas susunan kursi, kalo perlu nyungsep di bawah lemari.

"Hellooo good morning, everybody... haalah.. jam segini baru pada bangun !"

Saat itu sesosok bentuk misterius nongol di depan pintu. Sinar matahari pagi terasa semakin terang saat sosok itu menampakkan bentuk kepalanya. Cling banget.

"Gimana kalian ini.. orang yang lain dah berupaya mengejar waktu, kalian malah enak-enakan tidur, wake up men ! ayooo pada wake up !"

Tak salah lagi, sosok ini adalah Mr. Pathul. Tukang alih bahasanya Misi Computer. Penerjemah handal English – Bahasa Indonesia dan sebaliknya. Bahasa kerennya translator. Tau kan? Itu loh, yang sekarang dijual dalam kantong plastik dan banyak ditawarkan di sekolah-sekolah. Eh, itu es cendol ding.

Disamping jago menerjemahkan, dia juga jago berbicara dan memotivasi. Bagiku dia adalah tokoh ideal untuk promosi produk MLM. Saat ini dengan dandanan khasnya, kepala botak, kacamata ala Harry Potter, jas setengah terbuka, baju dan celana halus abis 2x disetrika dan tidak lupa sepatu yang klimis, karena keujanan. Mungkin pelampiasan karena tidak bisa meng-klimiskan rambut.. hehe.

"Heeeh.. kalo ketok pintu pelan dikit kenapa sih? Lom lunas tuh !", kata Joko kesel.

Harapannya tadi ada pelanggan imut-imut yg mau ambil ketikan kemarin, ga taunya sebentuk makhluk amit-amit.

"Kok malah bentak saya, harusnya bilang terimakasih karena sudah mengingatkan.. mana Budi? Apa dia juga masih mendengkur? Manajer kok kayak gitu, gimana anak buahnya. Kalo saya... bla... bla..."

Joko hanya diem ga komentar, dan berlalu ke belakang.

Gantian mas Pathul yang dongkol, karena belum sempet mengutarakan ilmu motivasinya dah ditinggal pergi.

Oia.. mas Pathul itu kayaknya temen sekelasnya mas Budi dan mas Edi. Di sini, dia bertugas di bagian terjemahan. Karena sifatnya freelance, jadi jarang ke Misi Computer kecuali ada job. Hari ini tumben-tumbenan tuh orang. Pagi-pagi gini dah bikin onar di negeri gila penuh kedamaian ini. Melihat dari dandanannya pagi ini aku yakin bener dia dah keterima jadi anggota PERBAKIN. (Persatuan Bathuk Kinclong).

Dan sesaat kemudian, dengan sangat terpaksa kami memulai aktifitas kantor lebih pagi. Biasanya buka jam 8, khusus edisi ini buka jam 6.30 sambil mendengarkan kuliah pagi ala Mr. Pathul. Eh iya, sebelum lanjut aku ingatkan bahwa sebenerya Pathul adalah nama panggilan yg diberikan mas Edi. Mas Edi kan emang orang iseng sedunia, nama orang diganti-ganti sesuka hati, seperti ganti-ganti sendal (Haah!!? Pantes sendalku sering ilang).

Kalau gak salah, nama aslinya mas Pathul itu Fatchul bin Sanusi. Coba bayangin nama indah begitu jadi ga ada artinya gara-gara mas Edi. Dan semenjak mas Edi manggil namanya menjadi Pathul, seluruh warga rental komputer ini sepakat mengikuti jejak sang pencipta, dan terciptalah Pathul.

"Jadi begitu teman-teman, yang terpenting adalah bagaimana memotivasi diri, menyemangati diri dan mencoba setiap kesempatan yang ada sehingga kita menjadi orang beneran, kalau kita cuma pasrah dengan kerja di rental kompi kayak gini, kapan majunya..."

Mas Budi dan Joko terbengong-bengong mendengar mata kuliah ilmu semangat pagi itu. Mas Edi yang masih kedinginan karena terpaksa mandi pagi-pagi dengan setengah hati mendengarkan sambil sok manggut-manggut. Dia emang paling jago berakting.

Sementara itu aku dan Made yang ada jam kuliah pagi lebih suka nongkrong di depan pintu kantor sambil memandang padatnya lalu lintas Jalan Gejayan pagi itu. Pemandangan yang lumayan lah untuk mencuci mata sebelum beraktifitas pagi ini.

Kadang tidak aku sadari, cepet bener perkembangan di Jogja. Kayaknya baru kemaren aku nongkrong di warung Mie dan Burjo sebelah, bareng temen-temen SMK. Warung seperti itu kini dah menjamur. Warung-warung makan yang lebih elit dah mulai menghiasi tepi trotoar Jalan Gejayan. Dari warung Tegal, gudeg Jogja sampai rumah makan Padang.

Disadari apa enggak, Jogja sudah semakin penuh. Semakin sesak dengan pendatang. Jumlah pendatang jauh lebih tinggi dari pada warga jogja yang pergi merantau. Hampir tiap tahun ajaran baru, Jogja selalu dipenuhi dengan calon siswa dan calon mahasiswa baru. Sementara calon pengangguran baru enggan meninggalkan Jogja setelah kelulusan mereka.

Dan kepadatan itu pula yang semakin menghiasi suasana pagi Jalan Gejayan.

Sebagian besar warga Jogja kayaknya emang anak sekolahan, terbukti selama hampir 20 menit kami pandangi jalan ini, selama itu juga makhluk terbanyak yang lewat adalah makhluk putih abu-abu, kemudian disusul anak-anak putih biru lalu putih merah dan beberapa mahasiswi yang putih-putih (huss... hehe).

Pandangan kami agak terganggu dengan datangnya sebentuk Vespa biru tua yang datang dengan sedikit oleng ke arah kami. Suaranya serak sang Vespa jauh melebihi kemampuan kebutnya, walau sebenarnya motor ini ber-cc lumayan besar.

"Haloo..", sapa pemiliknya berusaha merdu. Namun bagi kami tak ada merdunya sama sekali.

"Haloo mas, mau ikut kami kuliah ga?", sapaku iseng.

"Hehe.. silahkan Yud, aku mau ada urusan penting dengan yang lain di dalam".

Itulah mas Heri, salah satu teman akrab kami. Pemilik dan penunggang Vespa biru tua itu. Karena suatu hal, dianya dah jadi bagian tersendiri di Misi Computer. Saat itu mas Heri memakai setelan biru muda dan biru tua, dibungkus jaket semi kulit warna coklat. Tidak lupa kacamata hitam digantungkan di saku kiri jaket kerennya. Mungkin fungsi kacamata sudah berubah ya.

Sepertinya Mas Heri juga ga mau ketinggalan dengan obrolan pagi di Misi Computer. Mungkin mas Pathul sengaja mengundang mas Heri untuk ikut acara workshop dan semiloka “Motivasi Diri” di Base Camp makhluk-makhluk usil ini.

Akhirnya, Aku dan Made melangkah males menuju kampus, meninggalkan mas Heri dan seluruh warga Misi dalam cengkraman Mr. Pathul.



Siangnya,

Sekitar pukul 11 aku dan Made kembali ke Misi Computer. Letih juga kuliah pagi ini. Sepagian cuma denger celoteh dosen tentang manajemen industi yang bikin ngantuk. Bukan manajemen industrinya yang bikin ngantuk, tapi kayaknya suara dosennya deh. Dosen cowok, semuda apapun ya tetep aja bikin ngantuk.. Hehe.

Bahkan tak heran, selama kuliah tadi bukan catatan hasil obrolan dosen yang ada. Tapi aku malah sibuk corat-coret pesenan desain pamflet untuk bazzar di RT menjelang agustusan. Kalau dah seperti itu rasanya jadi merindukan Ilmu Psikologinya Bu Yulia. Hehe, kayaknya Made setuju deh dengan pikiranku saat ini.

Mau tau ceritanya?

Dahulu kala, saat tahun ajaran baru, saat sedang menunggu pergantian jam kuliah, para penyamun-penyamun di Jurusan Elektro pernah dibikin cihuui dengan kemunculan cewek cakep. Saat itu, kami lagi kumpul-kumpul, main tebak-tebakan di taman kampus.

“Kalian tau gak, makhluk apa yang paling kecil?”, tanya Made. Di kampus, Made emang terkenal tukang iseng. Heran deh, sekarang bisa bener-bener jadi programer. Jadi bapak lagi.

“Kutu! Apalagi kalau dilihat dari bulan!,” jawab Parjanto yang lebih ngetop dipanggil JetLi. Bukan karena dia jago kungfu, tapi karena dulu potongan rambutnya pernah cepak banget, mirip JetLi waktu masih di Shaolin. Ya, cuma potongan cepaknya aja yang mirip. Kalau secara keseluruhan, kayaknya si JetLi yang beneran bisa shock.

“Ada lagi yang lebih kecil Jet!”, kata Made.

“Kalau gitu anak kutu, dipecah jadi 1 Giga bagian”, kata Markidin. Kayaknya dia emang cocok jadi anak teknik beneran.

“Dimutilasi maksud kamu Din? Teganya…”, kata Nyoman, Nikmah dan Lusi hampir berbarengan. Cewek-cewek yang biasanya pendiam ini (kalau lagi gak punya duit), paling anti menyakiti makhluk lain. Kecuali nyubit dan minta traktiran. (Nyubit dan minta traktiran kadangkala juga termasuk menyakiti orang lain, fren).

“Ah, kalau kayak gitu semua juga bisa Din!”, protes Yasin pada Markidin.

“Ga cuma kutu. Semut, buaya, kodok kalau perlu keluarga dinosaurus juga bisa!”

Yasin memang gak pernah suka dengan segala sesuatu yang instan. Semua hasil itu didapat dari kerja keras, katanya pada suatu waktu. Betul banget Sin… buktinya sekarang kamu jadi orang sukses kan!

“Jangan lupa Sin, Hulk juga bisa”, kataku asal.

“Ho oh..!”, kata Yasin serius.

“Dah… terserah kalian aja, yang pasti itu salah semua!”, kata Made.

“Nyamuk ya? Atau… amoeba kan De?” kata Fafa ikut-ikutan ngetop.

“Atau anaknya amoeba!” sahut yang lain.

“Gak ah.. tetangganya mungkin! Iya kan De..?”, kata yang lain lagi, yang gak bisa ku sebut satu persatu.

Hehe.. tambah ngaco ya. Lagian pertanyaan Made juga gak ilmiah banget sih. Anak-anak teknik gini diajak tebak-tebakan masalah makhluk hidup paling kecil. Anak biologi kali. Masih mending kalau ditanya mikroprosesor apa yang pertama kali dikembangkan? Dijamin deh. Pasti pada diem.

Dan kayaknya Made dah mulai kesel, sebelum jawaban semakin bekembang menuju hal-hal yang tidak sesuai dengan topik, dia segera menyela.

“Dah ah kalau pada gak tau aku kasih tau aja…”

“Terus apa??”, kata temen-temen yang ga sabar.

“Cacing!”, jawab Made singkat.

“Kok bisa??!...”, sahut temen-temen yang merasa gak puas.

“Ya bisa dong!”, jawab Made penuh misteri.

“Kok bisa??! Amoeba kan lebih kecil dari cacing!”, sahut temen-temen semakin gak puas.

Bener-bener gak puas, bahkan rencananya siang itu kami mau membuat spanduk dan poster-poster untuk memprotes Made. Kami dah siapin kalimat yang kayaknya sempurna untuk poster kami nanti.

DEMI MAKHLUK HIDUP, USUT TUNTAS KOMENTAR MADE
atau
SELIDIKI OKNUM-OKNUM DIBELAKANG KOMENTAR MADE, SEGERA !

Ya.. Kita mau demo.

Demo? Kok bisa? Ya bisa lah, mahasiswa!

Tapi hal itu gak pernah terjadi kok. Karena Made buru-buru bilang…

“Ya jelas lebih kecil cacing dong. Mau amoeba kek, semut, nyamuk, atau anaknya kutu kek, terserah. Coba aja kalian bayangin, kalau amoeba atau anaknya kutu itu lagi cacingan. Berarti kan ada cacing di perut mereka. Jadi mestinya lebih kecil cacingnya dong daripada mereka?”, kata Made penuh kemenangan.

Temen-temen diem. Dongkol.

“Hulk juga bisa cacingan ya De?”, tanyaku. Hehehe.. Made manyun.

Tapi komentarku barusan hilang tanpa respon dari temen-temen karena pada saat itu sebentuk mahasiswi modis yang belum pernah kami lihat melintas di depan kami.

Seperti sekelompok bajak laut melihat daratan di seberang pantai, kontan aja cowok-cowok pada bersuit-suit hehe.. (kayak lagunya Slank jaman dulu ya).

Sementara yang ga bisa bersiul cuma bisa bertepuk tangan. Kayaknya sih gak cocok banget, menggoda anak orang dengan tepuk tangan. Tapi dasar bajak laut, tetep aja dilakukan.

Agak kaget campur senang, saat tuh mahasiswi tanpa ragu dan banyak cakap langsung menuju ke kelas kami. Cihuii, Kawan baru neeh, pikir kami. Kami pun mulai berhamburan menuju kelas, berebut masuk ruangan sambil berharap bisa duduk deket-deket mahasiswi baru.

Mahasiswi baru? Jangan-jangan, itu…?!

Dan kekhawatiran kami terjadi. Sang mahasiswi dengan santainya melangkah ke meja dosen dan akhirnya duduk di singgasananya tanpa canggung. Sembari duduk dengan senyum yang tenang dia menunggu dan memandang para bajak laut masuk ke ruangan.

Kami terbengong.

Ternyata yang sedari tadi kami anggap mahasiswi baru memang dosen kami.

Gubrak banget ya !!!

Selanjutnya, kejadian paling bersejarah dalam perkuliahan anak-anak teknik elektro dimulai. Para cowok dengan sangat keji mengusir cewek-cewek untuk duduk di barisan belakang dengan alasan mereka mau lebih konsentrasi mengikuti kuliah psikologi ini. Ya baru milenium ini ada cowok-cowok demen duduk di barisan depan.

Dan kami semakin sadar bahwa dengan duduk di barisan depan itu sebenernya bisa lebih cepat mendapatkan kesempatan yang lebih baik walaupun penuh resiko. Namun yakinlah resikonya jauh, jauh dan jauh lebih kecil. Paling-paling kalau ngantuk ketauan, hehe...

Makanya sebagai generasi bangsa harus berani menjadi lini depan dalam membangun bangsa. Ya gak?

“Ehm… Hm… mohon perhatiannya! Mm… Saya Yulia. Kalian boleh memanggil saya Bu Yulia. Dan mulai saat ini, saya yang akan menemani kalian mempelajari psikologi dan… “

Kalimat terakhir kayaknya gak terlalu kami perhatikan. Gedung Theater, tempat kuliah umum ini terasa sejuk, bahkan dingin. Padahal kayaknya sudah sejak jaman Belanda jendela-jendelanya sudah gak bisa dibuka.

Sepertinya seorang motivator sejati gak harus banyak cakap dan “bualan” ya? Contohnya sosok seperti bu Yulia. Hanya dengan sedikit ucapan saja sekumpulan bajak laut jadi bersemangat untuk belajar. Tepatnya bersemangat untuk ikut kuliah. Belajar kan masalah ke dua. Yang penting hadir kuliah. Dan yakinlah, semenjak hari itu sekumpulan anak yang hobi bercanda bisa sangat antusias mengikuti mata kuliah umum yang biasanya ditulis di agenda pada urutan nomor sekian-sekian. Hmm… sayangnya tidak semua makhluk terlahir seperti beliau.

“Di sini panas sekali ya?”, kata bu Yulia kemudian. Ternyata beliaunya ga sependapat dengan kami yang merasa siang itu begitu sejuk.

“Pake payung aja bu“, kata anak-anak bajak laut mulai mengaco.

“Topi juga boleh…”, kata yang lain gak kalah ngaco.

“Atau kalau emang panas dituang aja dulu di piring bu..”, kata Made.

“Maksudnya dituang dipiring itu gimana?”, tanya yang lain penasaran.

“Ya habis itu diminum pelan-pelan dari pinggir ya De?”, kataku menguatkan isengnya Made.

Hahaha... anak-anak bajak laut pada ketawa. Sementara Bu Yulia juga tersenyum dan kami semakin merasa pengen pingsan kedinginan.



Kembali ke masa kini.

Aku dan Made baru aja menapakkan diri di atas trotoar sisi barat jalan Gejayan. Langkah tegap maju jalan ke utara menuju Misi Computer. Jalan dari kampus ke base camp kami emang ga terlalu jauh. Kira-kira 1 kilometeran. Tapi kalau dah terbiasa paling cuma setengah kilo lah. (maksudnya ?)

"Cieee, pada rapi banget neh", kataku saat menemukan sekelompok makhluk Misi Computer. Dandanan mereka sama, celana hitam, baju putih lengan panjang, tak lupa dasi. Seharusnya rapi kan. Tapi ini tidak. Lebih pas dibilang kusut mendekati amburadul. Dan kayaknya ada yang salah dengan tampang mereka. Mereka nampak kesel banget, manyun.. iya manyun kecuali mas Edi dan mas Budi yang entah kenapa ketawa terbahak-bahak.

"Sialan Pathul", mas Heri memulai omelannya.

"Ho oh. Awas lo..!", tambah Joko.

"Iya.. malu-maluin aja, gengsi ku hancur lebur deh !", mas Aan tak kalah dongkol.

"Untung aja aku ga jadi ikut masuk tadi.. hehehe...", kata mas Edi bangga.

"Yee.. ko jadi nyalahkan aku. Aku kan juga ga tau kalo bakal jadi begini. Harusnya kalian bangga bisa dapat pengalaman mencari kerja..", mas Pathul coba mempertahankan diri.

"Kerja model apa kayak gitu. Masak ngantri loket formulir aja di pinggir sawah, udah gitu ternyata cuma disuruh jadi sales sendal jepit!", kata mas Heri dengan nada sebel yang khas Jogja.

"Emang payah ilmu manajemen kamu.. ga bisa bedain mana lowongan yang elit mana yang asal kerja. Masa iya sih tampang gini jualan sendal.. ", kata mas Aan tak kalah sebel.

"Mestinya kan aku jualan..."

"Gudeg ya mas??", timpal Made asal.. hehehe.

"Ah sialan Made..", kata mas Aan

Hahaha.



Emang lagi pada suntuk kayaknya siang itu. Ceritanya mas Pathul sang motivator lagi ajak temen-temen di Misi Computer untuk nyobain lamar kerja yang lebih elit ketimbang jagain rental komputer. Singkat cerita temen-temen pada terbuai ikut ngelamar kerja. Buat surat lamaran bermaterei, berpakaian seragam para pencari kerja (emang ada?) dan berangkatlah mereka ke tempat tujuan sesuai petunjuk bapak Pathul. Katanya perjalanan lumayan jauh, panas, pake ngantri untuk mendapatkan formulir, itupun di pinggir persawahan (hehe). Ga taunya pas wawancara. Cuma diminta jadi sales boy untuk menjual barang produk terbaru dari PT. Anu Megah Selalu.

"Ternyata memang ga mudah jadi orang sukses", Kata mas Budi beberapa saat kemudian.

"Makanya kita mesti realistis. Ga usah banyak ngeluh. Sudah pas kan kita punya usaha gini. Sambil sama-sama belajar di sini kita bisa bantuin banyak orang, udah gitu posisiku langsung bisa General Manajer lagi.. Bener ga? Hehe.."

Semua sebel mendengarnya. Tapi mas Budi tambah bangga.

Bener juga sih kesimpulan mas Budi siang itu, kalau mau jadi boss ya bikin aja perusahaan sendiri. Apapun bentuk usahanya yang penting bisa membantu banyak orang.

Mungkin emang sudah saatnya para tenaga kerja ahli di negeri ini mengembangkan dan membangun negara sendiri daripada menjual ilmu mereka untuk kepentingan negara lain. Mungkin sudah saatnya para warga negara ini mulai saling peduli terhadap nasib bangsa, dan bukan hanya nasib individu sesaat semata. Aset negeri ini begitu besar dan berharga, tinggal bagaimana bangsa kita mengatur dan mengelolanya untuk kelangsungan hidup bersama.

Mungkin juga benar penghasilan di dalam negeri tidak sebesar penghasilan di luar negeri. Tapi mungkin suatu saat nanti sebagian besar warga negara Indonesia adalah seorang pimpinan perusahaan. Dan bukan lagi pegawai rendahan atau bahkan ilegal yang bisa dengan semena-mena dihukum atau diusir seperti sekarang ini.

Dan tunggu saja. Mungkin besok aku juga bisa mendirikan "Yayasan Yudhi Mulia". Hee...

0 komentar:

Poskan Komentar

 
◄Design by Pocket Distributed by Deluxe Templates