Loading...

Jumat, 12 Maret 2010

Misteri Penculikan di Malam Valentine

Valentine day, kata orang sih hari kasih sayang. Tapi hari valentine awal milenium ini terasa nyebelin bagi anak-anak di Misi Computer. Bukan hanya karena hampir semua makhluk hidup pengisinya pada jomblo tapi ada kejadian yang mungkin ga bakal terlupakan seumur hidup. Bukan coklat legit nan indah yang didapat tapi was-was malu campur dongkol yang ada.

Ceritanya begini...

Kalian pasti tau dong apa sih yang mulai ngetrend di awal abad 21 ini. Selain tren rambut warna-warni ala kemoceng yang biasa dijual bebas di supermarket, peralatan elektronik yang mini plus canggih juga mulai membanjir. Salah satunya adalah Hape alias telepon genggam.

Telepon genggam berbagai merek dan tipe mulai menjajah negara kita. Layanan pemindahan suara via kabel atau kawat dah mulai jarang dan hanya milik daerah tertentu saja. Namun layanan komunikasi wireles atawa nirkabel sudah siap menjadi polusi udara baru di negeri ini.

"Mas Bud.. liat nie hape ku !" kata Mbak Dian, karyawati kantor PPAT sebelah rental.

Dengan semangat tahun baru 2000 yang masih tersisa dia memamerkan Nokia 3310 yang begitu kecil begitu cerdas. Ga usah kaget, di tahun 2000 hape culun itu masih trend-trendnya. Lebih hebat dari hapenya mas Budi yang mirip interkom itu.


"Baru ya?", tanya mas Budi.

"Buah pepaya buah sawo, Ya iya lah yaow...", kata Mbak Dian.

Ga usah heran, kata "lah yaow" juga lagi ngetrend tahun ini.

"Hapeku ini canggih lho Mas. Nih lihat, ringtonenya bisa dibikin sendiri. Dah gitu, banyak gamenya lagi ! Hebat kan ? Eh iya, minta nomor kamu mas, nanti aku sms..." Lanjutnya.

Ya begitulah, Mbak Dian dengan hape barunya yang canggih karena banyak gamenya. Dan mas Budi yang lagi kalah sombong terpaksa mengangguk-angguk aja sambil cari-cari kesempatan, siapa tau bisa minta pulsa.

Harga pulsa pada jaman awal milenium baru dulu gak seperti sekarang, pren. Untuk mendapatkan kartu perdana aja kita kadang musti keluarin dana ratusan ribu. Bahkan jutaan untuk nomor yang dibilang cantik. Entah dari sisi mana mereka memandang kecantikan sang nomor. Bagiku sih sama saja. Tapi kalau yang jual sih memang kadang cantik, hee..

"Eh, nanti malam kamu kemana Yan? kan tanggal 14 neh", kata mas Budi yang kayaknya semakin mengagumi hape mbak Dian, yang lagi banyak pulsa itu.

"Ah, paling di kos aja mas, mungkin masih lembur tugas kantor. Kenapa? Mau ngajak jalan? mau ntraktir?", jawab mbak Dian antusias.

"Eh, jangan nuduh !", buru-buru mas Budi menyela, "Jalan sih boleh, tapi kalo ntraktir ntar dulu deh. Tau sendirilah pemasukan bulan ini agak seret, abis anak-anak tuh kinerjanya kurang beres, disuruh ngetik satu lembar aja 10 menit, gimana mau cepet selesai kerjaan kita. Ya gak ?"

"Lho kok malah nyalahin yang lain mas, lagian apa hubungan kinerja kita dengan jalan dan ntraktir?", kata Joko yang sedari tadi sibuk nyelesein ketikan pelanggan. Sanggahan Joko hampir bersamaan dengan aku dan Made yang juga lagi sibuk dengan kompi jangkrik ini.

Mas Budi hanya nyengir kayak kuda, eh nggak dhing. Kuda lebih keren nyengirnya.. hehe. Mau bilang apalagi karena alasan kinerja kayaknya lebih masuk akal ketimbang bilang "Sori Yan, aku lagi pelit nih. Kamu aja yang ntraktir aku ya, plis..!"

Mas Budi emang paling hebat mengatur keuangan. Segala sesuatunya itu harus dipikir untung ruginya. Jadi kita bisa menahan diri untuk mengumbar keborosan.

Itu wejangannya pada suatu waktu. Yah, begitulah bahasa para entrepreneure katanya. Tapi kami lebih mudah menyebutnya pelit.

Lalu…

"Kalo mau jalan, sama aku aja Yan, nanti tak traktir", timpal mas Osien yang baru aja datang. Nih dia jago olah data di Misi Computer. Dia adalah idola dan tumpuan terakhir para mahasiswa semester akhir yang lagi puyeng menyusun angka-angka dan hasil valid untuk penelitian mereka.

Kayaknya nama aslinya di KTP cukup keren Pieter Sien.. dan kami lebih demen panggil beliaunya mas Osien. Tak lebih dan tak kurang.

Saat itu, dengan dandanan khasnya, kaos oblong plus celana setengah kaki (apa sih namanya?) dan sandal jepit merah biru kesayangannya, mas Osien melangkah masuk ruangan. Melihat raut mukanya yang sayu, kayaknya dia dah siap-siap mau tidur karena semalem bergadang di warnet. Bajunya kian hari kurasa kian kelabu aja warnanya. Padahal pada saat kenal dulu baju itu sepertinya berwarna putih. Oiya, sandal jepit merah birunya itu tadi maksudnya yang kiri berwarna merah, yang kanan berwarna biru.

Mbak Dian sumringah mendengar ucapan mas Osien barusan.

"Bener nih mau ntraktir aku, mas?”, tanya Mbak Dian.

“Ya kalau kamu mau, kalau sama Budi kan paling kamu yang harus bayarin dia. Mana seringnya kan dia nambah kalau pas ditraktir.. ya kan Bud?”, kata mas Osien.

Semua ketawa kecuali mas Budi.

“Ya wis kalau beneran, sampai nanti yak, aku mau bobo siang dulu !", kata Mbak Dian.

"Mau bobo Yan?! Ya udah, bareng aja yuk!", sahut mas Osien penuh harap.

"Huss !!!"

Mbak Dian segera berlari dan berlalu ke kosnya di belakang kantor, takut ada serangan umum mendadak.

Sementara Mbak Dian berlalu, sebentuk Suzuki Shogun berstrip orange berhenti di depan pintu kantor. Mesinnya menderu sejenak lalu diam seribu bahasa. Mas Edi nongol di depan pintu sambil senyum-senyum mencurigakan plus bawa segepok rambutan. Tumben nih.

"He, Halo semua...! Nih, ada oleh-oleh untuk kalian !", Katanya.

"Waaah.. asik neh. Dapat dari mana mas?", kata Joko. Aku dan Made yang sedari tadi sibuk mengedit virus Titasik mulai terusik juga. Kayaknya nama rambutan mengalahkan warna-warna pelangi di virus makro yang mulai mengganggu itu.

Dan kami pun berebut memburu oleh-olehnya Mas Edi. Tak ketinggalan Mas Budi dan Mas Osien yang dah ngantuk berat itu, ikut-ikutan mengambil beberapa buah rambutan dan berlalu ke kamar belakang.

Ternyata masih banyak orang-orang kelaparan di negeri ini. Dalam sekejap aja kantong plastik berisi rambutan tadi mulai kelihatan kosong.

"Ini tadi dari Narto, dia ke rumah. Ga tau kenapa bawain aku rambutan"

"Gimana? Kalian dah jadian ya", tanya Mas Budi.

"Siapa?? Ngaraaang !! wis ga usah ribut, makan aja !", sahut Mas Edi.

Narto??? hehehe. Dia itu cewek temennya Mas Edi. Tau sendirilah mas Edi itu suka manggil nama orang seenak hatinya sendiri. Aku sampe sekarang juga ga tau nama asli mbak Narto itu siapa.

Katanya tuh cewek naksir berat sama mas Edi, dan kayaknya sih mereka dah pacaran tapi mas Edi ga pernah mengaku. Sampe hari inipun misteri itu ga pernah terkuak. Mungkin pada beberapa abad mendatang atau suatu saat nanti bakal ditemukan manuskrip dari tahun 2000 tentang misteri mereka berdua, hehehe. Yang jelas playboy kayak mas Edi pasti berprinsip walau selalu gonta-ganti gebetan tapi harus yang menguntungkan. Ya terbukti kan, hari ini bisa dapat rambutan gratis. Banyak lagi. Siapa tau besok dapat jeruk, pepaya, mangga atau melon. Kan sekalian bisa buka toko buah.

"Nah, sudah pada kenyang kan? Sekarang aku mau ngomong", kata Mas Edi, "Nanti malam kan aku dapat jatah ronda di kampung, makanya aku ijin ga bisa ke sini, kalian pada jaga rental ya..."

Gubraaaak !!

Ternyata ada maunya.. pantes aja dia jadi baik hati dan tidak sombong hari ini. Tapi mau bilang apa, setengah isi tas plastik ini dah habis kita sikat.

"Ya udah, ga pa pa", sahut mas Budi yang merasa kecolongan, "Lagian hari ini kita buka setengah hari aja, nanti malam kita tutup karena lagi valentine biar kita bisa refreshing".

Siiing.... ssstt... sepi !

Padahal sebenernya mas Budi sudah mengharapkan sanjungan sebagai pimpinan yang bijaksana dan berwibawa dengan kata-kata barusan. Tapi memang karyawan-karyawan Misi Computer pada ga tau diri. Dasar!

"Nah, bagus itu. Jadi aku bisa ngapel dengan tenang", kata mas Edi beberapa saat kemudian.

Ngapel?? Lho katanya Ronda !!



Sekitar pukul 19.00 ketika mas Osien terbagun dari tapanya. Dia agak tergagap saat mendengar ringtone panjang hapenya, dan dilanjutkan ada 3 pesan singkat yang masuk berturut-turut. Hanya Satu baris kalimat tertulis pada masing-masing pesan "BANGUUN MAS.. DAH MALAM !!!"

"Sialan si Dian", kata mas Osien, "Baru enak-enak tidurin di-miskol-an !".

Hahahaha.. gariiing! itu lawakan lamaaaa!

"Kenapa mas, kok sewot gitu", kataku.

Saat itu Aku dan Joko lagi sibuk, merapikan jobsheet para pelanggan biar ga amburadul. Tapi kayaknya mau dirapikan gimanapun ya tetep aja nantinya berantakan lagi. Padahal kata si Boss malam ini kita refreshing, tapi tetap aja ada kerjaan yang kata Made mestinya gak usah dikerjakan.

"Kalian kan ga ada pacar ! mendingan tidur sini aja, nemenin aku", katanya tadi sore. Bilang aja kalo minta ditemenin karena lagi ga ada pacar, kalimat kok pake dibalik-balik.

Tapi karena lepas malam nanti mas Edi janji bawain roti bakar isi coklat kacang dan mas Aan juga siap bawa pizza ukuran jumbo, kita sih asik-asik aja nunggu di sini. Sekali-kali bermalam valentine di jalan Gejayan yang ga pernah sepi ini.

Mas Osien terduduk lesu di pinggir kasur lecek tanpa dipan di kamar mas Budi.

"Ini lho pak Yudhi, pak Joko", Kata mas Osien dengan gaya khas yang selalu mendewasakan siapa saja yang disapanya.

“Masak si Dian tuh bangunin orang ga sopan gini.. pake miskol-miskol terus sms ga jelas…”

Sambil sempoyongan, dia mengambil handuk yang kayaknya sedari tadi dia pake selimut, beranjak dan bersiap mandi.

Mandi?? Biar apa?? Ya.. biar biur !!!



"Tiit.. tit.. tiiit.. tiit.. tit…"

Bunyi khas dari interkom.. eh, hape mas Budi. Beberapa waktu belakangan ini temen-temen yang punya hape gemar sekali saling bersms. Ya mungkin tarif sort message service yang ditawarkan operator relatif lebih murah daripada nelpon. Dan itu menandakan sudah semakin banyak warga negara yang bisa menulis.. hehe.

"Pake hape itu selain keren juga membantu, dengan sms saja informasi akan cepet sampe tujuan, ga perlu sistem birokrasi yang bertele-tele", Kata mas Edi suatu waktu.

Mas Edi pernah kirim sms ke Pak Marno, pemilik warung tenda berjuluk “Warung Susu Murni” di depan Misi Computer, katanya pesen susu plus mie rebus pake telur setengah matang. Tak berapa lama si Pendi, anak terkecil pak Marno datang sambil menenteng hape.. "Mas Edi.. Bantuin nih, hape bapak bunyi. Bapak ga bisa bukanya !!"

"Waduuh gawat nih !!!!", setengah teriak mas Budi sambil menghampiri aku dan Joko.

"Kenapa mas??!"

"Dian diculik ! Nih dia barusan sms aku !", kata mas Budi, wajahnya keliatan bingung campur panik.

"Masak sih.. kok bisa, gimana ceritanya ?" Aku dan Joko juga setengah bingung menanggapi kalimat mas Budi.

"Tadi kan aku miskol dia terus.. maksudnya biar dia telpon aku, eh malah dia sms kalo sekarang lagi di culik orang di kantor Pak Mendro".

Bapak Sumendro, adalah pemilik kantor sebelah rental kami. Beliau menangani surat menyurat tentang pajak dan pertanahan gitu. Nah, Mbak Dian tuh karyawatinya yang kebetulan kosnya sekomplek dengan kantor.

Tadi ceritanya mas Budi iseng misscall mbak Dian. Kalian kan tau mas Budi paling anti pemborosan, jadi kalau dia pengen ngobrol dengan seseorang tinggal miskol aja. Harapannya yang di miskol akan balik nelpon. Ngirit kan. Ini berlaku untuk semua operator, tanpa syarat dan ketentuan lain.

Tapi saat ini beda kejadiannya. Tadi mas Budi iseng miskolin mbak Dian, dengan harapan ditelpon balik. Tapi ternyata bukan sapaan balik yang didapat tapi pesen singkat yang agak aneh dan bagi kami agak mengkhawatirkan. Mbak Dian ngaku diculik.

"Terus gimana ya, apa perlu telepon polisi?", kata mas Budi.

"Pastikan dulu aja mas, bener ga?", timpalku.

"Tapi.. waah, gawat nih, gimana ya.. aduuh.."

"Hei, hei, hei !!! Lagi pada ngapain??!! Ribut aja!!!", kata mas Osien yang masih tampak kedinginan terguyur air sumur setengah matang (emang ada?).

"Nih, lihat nih !! kamu baca sendiri pak...", kata mas Budi sambil menyodorkan hape canggihnya. Layar monochromnya didesain bener bisa dilihat pada kadar cahaya yang agak rendah seperti ruangan Misi Computer malam itu. Keren abis.

Sebaris pesan dari mbak Dian…

MAS AKU DICULIK

"Apa-apaan ini? Emang Dian di mana? Tadi aku barusan lewat depan kosnya, sepi-sepi aja. Ga ada apa-apa"

"Mungkin dia dan penculiknya di dalam kantor sebelah! Gawat kan kalo sampe Dian diapa-apain" kata mas Budi yang semakin membuat panik kami. Padahal dalam hati mas Budi dia bilang, harusnya aku tadi di dalam kantor juga. Jadi bisa ikut ngapa-ngapain Dian.. hehe.. Huss!!!

"Daah, gini aja Bud... Aku coba cek pintu belakang. Yudhi dan Joko jagain pintu rental ini aja, terus kamu di pintu depan ya Bud. Oia, telepon Pak Mendro, Bud... Edi juga sekalian suruh ke sini atau siapa tuh sodaranya Dian, Heri yaa.. suruh ke sini sekalian!"

“Paling gak kita jagain tempat ini, biar yang gangguin Dian ga bisa kemana-mana, oke??”, lanjut mas Osien.

Saat itu ga ada yang terpikir selain mengikuti saran mas Osien yang jago game strategi itu. Dan baru malam itu aku lihat mas Budi dengan ikhlasnya menelpon mas Edi (bodyguardnya Misi Computer), mas Heri (yang ngakunya kakaknya Dian) dan pak Mendro (yang punya kantor). Dia nelpon pake hape dan pulsanya sendiri lho… bayangin, pulsanya sendiri ! Sekali lagi, pake pulsanya sendiri ! Bener-bener Rekor MURI.

Sementara itu aku, Joko dan mas Osien mulai mencoba strategi mirip di game Age of Empire Trial Version yang ga bisa pake cheat itu. Masing-masing pegang sesuatu sebagai senjata, Joko sudah siap dengan barbelnya mas Edi yang 2 kiloan, sementara aku menemukan kayu bekas tangkai sapu lantai.

Rencananya mau kuterapkan jurus tongkat tanpa bayangan yang pernah ku pelajari. Aku dulu pernah beli buku panduan singkat kungfu di Toko Buku Sebelah seharga Rp. 1.500. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk mencoba mempraktekkan hebatnya buku itu.

Saat itu mas Osien juga sudah memulai kuda-kuda Tai Chi Masternya. Memang agak menegangkan kejadian malam itu. Gak nyangka valentine nites kita agak berubah rencana.

"Gimana Bud??", bisik mas Osien sesaat kemudian.

"Tenang aja, semua sudah aku hubungi sebentar lagi juga pada sampe sini. Kita siap-siap aja, jangan sampe tuh garong lepas !", kata mas Budi setengah berbisik. Takut kalau-kalau para penyamun di kantor sebelah sadar akan rencana kami.

Setelah itu kami kembali bersiap pada posisi masing-masing. Rencananya kami mau pasang strategi konstruksi naga sejuta, tapi karena duit kami gak ada segitu, yah… yang penting berjaga-jaga saja sambil sedikit dag dig dug dan rawa was-was.

….

Seperempat jam kemudian, sebuah Honda Accord putih bersih melintas dengan gesit dan berhenti di tepi jalan di depan kantor. Dengan sigap seorang pria membuka pintu mobil dan segera berlari ke ruangan Misi Computer. Mas Budi menyambutnya dengan segera.

"Piye Bud..?", katanya tanpa basa-basi. Ya, dialah Pak Sumendro, bossnya Mbak Dian yang saat ini mungkin lagi terjebak di kantor.

"Mereka kayaknya masih di dalam pak", kata mas Budi

"Biar aku yang tangani", kata pak Mendro sambil bergegas masuk ke kantor Misi Computer dan menuju ke pintu belakang kantor.

Kantor pak Mendro dengan basecamp kami memang bersebelahan. Satu tembok bahkan. Jadi jika akan menuju pintu belakang kantor pak Mendro, bisa ditembus melalui kantor Misi. Kami ikut-ikutan berjalan agak pelan (baca: mindik-mindik) mengikuti langkah Pak Mendro.

Pak Mendro segera menuju pintu belakang kantornya, dan mengetuk pintu keras-keras. Kami agak tersentak kaget, berani sekali pak Mendro. Kalo penculik mbak Dian nekad gimana?? Kita kan gak tau ada berapa mereka dan siapa aja yang di dalam. Jangan-jangan mereka bawa senjata lagi.

Mas Osien dan Mas Budi yang pengen mencegah sudah terlambat, bener-bener terlambat dan hanya tergaget pucat ketika tiba-tiba pintu kantor terbuka dan...

"Duuh, siapa sih...!!! Baru enak-enak tidurin dibagunan… Eh, bapak ???"



Aku dan Joko segera meninggalkan TKP dan menuju warung tenda Susu Murninya si Pendi dengan umpatan di hati. Mas Budi yang malu, dongkol plus stress juga berlalu dan membuang emosi dengan maen ayunan di Taman Bermain sebelah kantor. Sementara itu mas Osien masih terbengong-bengong sambil menyaksikan pak Mendro yang lagi marah-marah dan menasehati keisengan Mbak Dian.

"Baru kali ini hasil pengolahan dataku tidak sahih", pikir mas Osien sambil pelan-pelan mengakhiri kuda-kuda thai chi masternya. Suhu jadi bertambah dingin waktu itu.

Iseng kok ya kayak gitu. Untung saja nomor sakti 911 ga berlaku di negeri ini. Kalau saja bisa, mungkin kita sudah membangunkan polisi tidur cuma untuk keisengan semata. Mengganggu kesenangan orang lain di malam valentine bisa diperkarakan sesuai undang-undang anti hura hura! Untung saja kita masih sok tau dan sok berani menangani perompak dengan kemampuan sendiri.. coba kalo gak.



Sesaat kemudian, tepatnya 30 menit setelah kejadian.

"Hei.. gimana? Mana penculiknya? Sudah manggil polisi?", kata mas Edi dari atas Shogun 125cc nya tanpa mematikan mesin. Sepertinya dia gak kalah panik seperti kami tadi.

Aku dan Joko yang masih asik makan roti bakar di warung tenda depan kantor menyahut, "Sudah mas.. sudah ditangani…"

"Aduuh, barusan vespanya bocor nih, jadi agak lama sampe sini... Dian gimana??", ternyata Mas Heri juga dah nongol, nafasnya terengah-engah, kedodoran karena memacu Vespa Birunya dari Bantul sana. Semoga dengan tenaga yang tinggal segitu dia masih bisa bertahan masuk level berikutnya. (emangnya game ??!).

"Sudah mas.. sudah ditangani", kata kami.

"Hei.. gimana sih kalian ini, ada temen kena musibah gitu, malah enak-enak makan??!", kata mas Edi dan Mas Heri hampir bersamaan.

"Sudah!!... sudah ditangani !!!!"

Teriak mas Osien dan mas Budi yang barusan masuk ke warung tenda. Tangan kanan mereka meraih roti bakar, sementara tangan kirinya mengambil pisang goreng dan memasukkan ke mulut masing-masing secara bersamaan.

Mas Heri dan Mas Edi terbengong.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
◄Design by Pocket Distributed by Deluxe Templates