Loading...

Jumat, 12 Maret 2010

Kisah Para Jagoan IT

Misi Computer. Sebenarnya lumayan bangga sih punya tempat nongkrong macam ini. Orang-orangnya asik walau sedikit gila. Mungkin kalau ada tes kejiwaan keliling, kami gak akan dapat sertifikat lulus. Tapi itulah kami. Kantor kontrakan Misi Computer cukup strategis. Di tepi jalan Gejayan.

Ya jelas, kalau di tengah jalan mana bisa hidup tentram.

Entah awal berdirinya gimana, yang jelas aku jadi anggota geng ijo (ih.. Jomblo) di sini juga gak sengaja. Waktu itu iseng main pas bolos sekolah, nyewa komputer untuk belajar beberapa jam. Bolos sekolah untuk belajar komputer? Ga salah?? Itulah Jogja.

Abis itu, karena keseringan main di tempat yang sama, jadi kenal sama mas-mas punggawa rental komputer, yang belakangan ku kenali bernama Misi Computer. Ya wis.. singkat cerita aku dijebak, diculik, dan dijadikan anak buah (baca : budak) untuk sama-sama mempertahankan hidup di tempat bertitel Misi Computer (mungkin lebih tepatnya mempertahankan hidup si Boss).

Waktu itu di Jogja belum banyak yang punya komputer. Maklum kami masih lebih menyenangi kumpul-kumpul, bersepeda, main yoyo dan atau karambol, yang entah sekarang gimana cara menemukannya. Saat itu, Komputer masih menjadi barang mewah, mengalahkan sepeda gunung.

Loh.. Apa hubungannya?



Jelas ada hubungannya Bung, Gara-gara Bung, harga BBM melambung. Jadi motor mulai gak laku, dan sepeda gunung bakalan mahal. Melebihi harga sebuah PC ber-prosesor Intel Pentium IV.
Mau taruhan Bung?

Lihat aja beberapa saat lagi, pemilik komputer di Jogja bakalan melambung. Ya, jauh lebih banyak ketimbang pemilik sepeda gunung.

Kok jadi ngomong BBM. Yang pasti, karena sifat mewahnya, komputer belum banyak dimiliki oleh mereka yang membutuhkan. Dan rental komputer adalah solusi yang hebat waktu itu. Mungkin juga sampai hari ini. Biaya murah, waktu jadi efisien dan pekerjaan selesai. Bahkan kalau ada kesulitan, bisa nanya dan pasti dibantu. Bener, Pasti dibantu. Selesai apa tidak, itu masalah nanti.

“Permisi mas.. !!!”
Aku terkaget dari lamunan. Masih terasa dingin karena tadi pagi-pagi bener dah maksain diri untuk mandi.

“Eh, ya.. mari mas silahkan, ada yang bisa dibantu?”
Seorang mahasiswa tingkat menengah (kayaknya) menginjakkan kaki di sarang penyamun. Sebagai anak buah yang baik, aku menerapkan aturan dari Boss. Semua pelanggan bagaikan raja, sapa dan layani dia dengan baik !

“Anu mas, saya mau ngeprin mas, bisa?”

“Bisa-bisa, silahkan. Mau saya prinkan? Atau masnya mau ngeprin sendiri?”

“Saya sendiri saja mas, soalnya mau diatur-atur dulu …”

“Oke-oke.. mangga, silahkan pilih aja mau pake komputer yang mana, silahkan”

“Makasih mas..”, kata si Mas sambil beranjak ke salah satu komputer.

Obrolan basa-basi pagi selesai. Dapat satu pasien. Pagi ini aku kebetulan bantuin jaga Rental Komputer ‘Misi Computer’. Mas Budi masih sibuk membersihkan diri kayaknya. Sementara Made yang semalam suntuk belajar bikin game, masih agak sayu mengantre di depan kamar mandi. Entah sayu karena ngantuk, atau menyesali hidupnya karena gamenya belum jadi-jadi.
Jadi tinggal diriku yang jagain pintu Misi Computer. Biasanya jam-jam pagi gini banyak pelanggan yang datang. Kebanyakan ngejar jam kumpul tugas kampus. Seperti mas mahasiswa yang baru datang tadi.

“Mas bisa bantuin saya???”
Wah, baru diobrolin, dianya ngomong…

“Ya.. kenapa mas?”, kataku.
“Data saya kok gak ada ya… padahal sudah saya simpan…”
“Mas, nyimpannya di mana?”, kataku penasaran.
“Tadi saya simpan di My Computer mas, bantuin ya.. kok jadi gak ada???”
“Coba saya lihat..”

Aku coba cariin data si mas barusan. Katanya di simpan di direktori My Computer. Tapi memang saat itu gak ada data yang dia maksud.

“Masnya yakin nyimpan datanya di My Computer?”, kataku penasaran.
“Yakin mas, orang saya yang nyimpen sendiri.. aduh gimana mas, padahal mau dikumpul neh… kok di sini jadi hilang??”

Aduh, agak bingung juga aku. Jangan-jangan karena pelanggan yang lain yang menghapus data tanpa ijin. Di Misi Computer, semua klien biasanya minta tempat di Harddisk untuk menyimpan datanya, jadi sewaktu-waktu mereka bisa ambil, bisa nyalin, dan lebih mudah jika mereka mungkin mau nyetak lagi besok-besok. Tapi disayangkan, kadang ada saja pelanggan yang gak tau dan (gak sengaja) menghapus data pelanggan lain.

“Kalau di sini biasanya pada nyimpen di foldernya masing-masing di My Documents. Mas yakin nyimpen data di My Computer?”, tanyaku sekali lagi pada pelanggan yang lagi sama bingungnya dengan aku.

“Yakin mas, bener. Jangan-jangan di rental mas ada virusnya lagi !”

Waduuh, tanda-tanda mulai gak dipercaya ini, bisa bahaya !

“Kenapa Yudh??” Mas Budi nongol dengan kondisi masih setengah basah kuyup, abis mandi.
“Ini mas Bud.. data mas ini kok gak ada, padahal katanya disimpen di My Computer”
“Masak sih..??”, tanya Mas Budi setengah ga percaya.
“Jangan-jangan temenmu ada yang iseng hapus-hapus data lagi mas”, Kata Made yang entah sejak kapan selesai cuci muka. Perasaan tadi baru aja ngantre.

“Gak ah, temen-temenku kan orang aiti (IT) semua, mana mungkin hapus data sembarang? Kalian kan tau, tempat kuliah kami tuh.. Tempat Kuliah Orang Ber…”

“Daah, sudah, malah iklan ! Bantuin tuh masnya..”, sahut Made.
“Iya, bantuin mas. Saya buru-buru mau ngumpul tugas neh…” Mahasiswa itu keliatan panik banget.
“Ya, ya.. coba sini saya lihatnya“, kata Mas Budi buru-buru.

“Oiya mas, Kapan terakhir mas nyimpen datanya ?”, tanyaku iseng.
“Tadi pagi mas”, jawabnya.
“Tadi pagi ???”
“Iya, tadi sebelum saya ke sini. Saya simpen datanya di My Computer”

GUBRAKKK !??

“Mas nyimpennya di My Computer siapa???”, tanya kami hampir berbarengan.
“Ya di My Computer saya, di kos !“

GUBRAAKK ke dua !!!



Kemampuan pengguna teknologi kadangkala memang tidak berimbang dengan kemajuan teknologi yang pesat. Teknologinya ngebut pake ojek, sementara para pemakainya jalan pelan-pelan sambil mendorong truk. Jalan pelan-pelan bukan karena banyak anak kecil, tapi karena kadangkala susah untuk belajar paham dan memahami, alias tanggung.

Akhirnya Misi Computer tadi pagi dibuka dengan penjelasan Mas Budi kepada pelanggan baru, bahwa sesungguhnya komputer itu tidak sepenuhnya simpel. Nyimpen data di Komputer kosan, tidak berarti datanya juga tersimpan di komputer kami. Kecuali komputer-komputer ini saling dihubungkan. Betul??

Mas Mahasiswa Tingkat Menengah tadi manggut-manggut malu, sambil terharu dan minta maaf. Kami maklum, masih mendingan kok ga tau tapi mau tanya dan tidak sok tau, daripada yang ga tau apa-apa tapi sok aksi.

Kami adalah penjual jasa profesional. Kami tidak akan menertawakan pelanggan yang tidak tau seperti tadi. Mas mahasiswa tadi pamit sambil bilang mau ngopi datanya dulu nanti kalau sudah akan balik ke Misi Computer, sambil minta bantuan diprinkan. Nah, itulah gunanya profesionalisme. Pelanggan tidak marah, malah merasa terbantu dan gak bakal malu untuk balik lagi.

Made melihat ke tikungan jalan….
“Sudah. Masnya.. sudah gak keliatan kok, yuuk ketawa yuukk !!!”
Hahahahaha… Huahahaha !!! Kami guling-guling ketawa !

HEI… KATANYA PROFESIONAL ?????
Sori fren, kalian belum tau ya, arti lain dari profesional adalah DUIT !
Hahahahaha… Huahahaha !!!

Kami terbahak sampai mas Osien yang baru pulang dari warnet terbengong-bengong. Bener-bener aura kejiwaan di Misi Computer dah mulai gelap nih, pikirnya sambil menyiapkan jurus Tai Chi Masternya. Kami terpaksa menghentikan tawa, takut disulap jadi kodok.



Siangnya…
Alunan merdu lagu-lagu Koes Plus masih juga mengiringi kipas angin yang berputar ga stabil di atas kepala kami. Entah maksud mas Budi apa sampai memilih bentuk kipas angin yang terlalu besar ini. Walaupun diset pada kecepatan Very Very Extra Low (emang ada?), rasa was was selalu ada. Kami mungkin kebanyakan nonton filemnya Bruce Wilis. Kebayang kalau kipas angin lepas, melayang menghancurkan semua yang dilewatinya bak baling-baling helikopter penjahat yang menghantam gedung atau jalan raya dan kami semua sudah siap ngomong “Yepe Yipi Kei..”

Aku dan Made masih berjaga dengan setia di Rental yang aduhai ini. Mas Edi baru pergi ngurus TA (Tugas Akhir) di kampus. Sementara Mas Budi lagi di ruang dalam, juga lagi sibuk persiapan ngurus TA katanya. Aku dan Made sih lagi santai. Kebetulan lagi gak ada kuliah hari ini. Dosennya ijin, katanya juga lagi mau ngurus TA. Ada-ada aja.

Yah, itulah hidup. Kadang ada-ada aja. Seperti rentetan kejadian hari ini. Setelah sepagi tadi kami membantu Mas Mahasiswa Tingkat Menengah, sebenarnya masih ada kejadian yang menggelikan plus bikin dongkol kami siang ini.

“Mas saya mau nyewa komputer”, kata seorang pemuda pagi tadi.
“Silahkan, mau pake program apa mas?”, kataku.
“Ada Lotus ga mas?”, tanyanya.
“Oh pake Lotus ya, bisa diusahakan… Kenapa gak pake Excel saja mas?“, tanyaku.

Maksudku sih, menawarkan program aplikasi yang saat ini lebih familier. Hampir semua komputer dah menggunakan OS (Operating System) berbasis GUI (Graphical User Interface) yang canggih dan keren. Makanya aplikasi-aplikasi dibawah DOS (Disk Operating System) sudah hampir tidak digunakan lagi. Tapi salut juga, ternyata pada jaman sekarang masih ada yang nekuni Lotus.
Aplikasi yang bernama asli Lotus 123 (Lotus Development Corporation) ini identik dengan aplikasi perkantoran Excel (Microsoft) kalau di OS Windows. Dipakai untuk operasi tabel, grafik, perhitungan angka-angka dan sodara-sodaranya. Ya, Ms Excel mungkin adalah penerus aplikasi Lotus 123, atau dikenal dengan nama Lotus saja.

Aku sendiri merasa aplikasi Lotus 123 memang hebat. Banyak inovasi selama perkembangan beberapa versinya, hingga yang terakhir kukenal versi 2.4 (entah sebenernya terakhir lahir versi berapa ya). Yang jelas, waktu itu Lotus 123 cukup membantu kita untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan hitung menghitung, grafik dan fungsi statistika lainnya. Sori disisipi iklan.

Mendengar pertanyaanku tadi sang pemuda merespon.
“Oh, tidak bisa pake program lain mas. Ini harus pake Lotus, soalnya untuk operasi tabel dan matematika yang cukup rumit !”, kata pemuda super pede itu.
“Oh gitu ya Mas”, kataku yang agak heran mendengar penjelasannya. Tapi aku tetap manggut-manggut karena ngantuk.
“Terus masnya mau pake Lotus versi berapa nih?”, kataku kemudian.
“Lotus versi 123 mas!!”

Aku bener-bener menahan geli, sementara Made dan Mas Budi di ruang dalam dah dari tadi terdengar cekikikan. Ada-ada aja kan?



“Selamat siang mas, ada notepad mas?”

Tak berapa lama cowok yang lain datang. Apa auraku ini pengundang cowok ya. Sedari tadi pagi cowok mulu yang ke sini. Kalau dah gitu mas Budi biasanya yang paling cepet berlalu, menghindar. Paling males bantuin cowok, katanya. Dasar Boss ga bisa ditauladani.

“Ya.. Maaf mas, gimana?”, tanyaku karena kurang konsen tadi.
“Notepad ada gak mas?”, tanya cowok itu.
“Eh, kayaknya lagi ke kampus mas… “
“Loh…??? Maksud saya Notepad program komputer itu loh mas?”
“Oh itu… saya kira Notepad anaknya Pak Waluyo. Dia panggilannya Nonot !”, kataku asal.

Kayaknya Made dan Mas Budi tambah guling-guling sambil cekikikan di dalam.

Baru kali ini ada pelanggan bertanya sesuatu yang menakjubkan. Notepad adalah aplikasi pengolah data teks sederhana pada OS Windows. Secara default program itu pasti ada saat OS Windows sudah terpasang. Jadi, semua komputer ber-OS Windows secara default pasti punya Notepad, ga usah ditanyakan lagi. Sori kesisipan iklan lagi.

“Mau untuk apa sih mas, kok pake Notepad ?”, tanya Made sesaat kemudian. Sepertinya programer satu ini agak penasaran juga.
“Ini mas, soalnya untuk internet. Jadi harus pake notepad”
“Ooh..??”, Made bengong.
“Kenapa ga pake Ms Word aja mas?”, kata Mas Budi yang ikut-ikutan ga mutu.
“Yah, ga bisa mas… Jadi gini, saya kan mau kirim imel ke sodara saya, makanya saya ketik dulu pake Notepad”, kata sang cowok pede tadi.

Kayaknya penulis buku fiksi ilmiah tentang internet harus hati-hati. Jangan memberi label buku dengan ‘Tutorial’. Sudah terbukti ada korban tutorial neh.

Selama beberapa waktu kemudian, cowok itu bercerita kalau mau kirim e-mail atau surat elektronik ke sodaranya yang kemaren nelpon dari luar negeri. Dia menjelaskan fungsi e-mail dan website di internet kepada Made dan mas Budi. Gantian aku yang lari ke dalam menahan geli. Sementara Made terlihat dongkol campur gak enak ati. Ada juga asisten dosen diajari cara ngirim imel, pikirnya.

Beberapa saat kemudian…
“Mas, ini kok ga bisa dipake sih komputernya ?”
“Gak bisa gimana mas?”, kata Made.

Sementara Aku dan Mas Budi juga buru-buru keluar ruangan.
“Ini loh ga ada respon apa-apa”, kata cowok yang berencana ngirim e-mail tadi.
“Maksud mas gimana sih?!”, kata Made yang biasa cepet emosi. Apalagi kalau ada BeGuling di sini.. hehe.

Mas Budi mendekat.
“Ada apaan mas ?“, tanya Mas Budi.
“Ini mas, tadi saya kan siapin imel. Nih, sudah saya ketik dan siap kirim. Nah, abis gitu saya coba buka yahoo.com tapi kok gak jalan, gimana sih ini mas???”

Tuing… Tuing.. Tuing…

Made langsung mengajak aku ke warung Bu Jujuk, beli es jeruk, sambil duduk-duduk membuang kantuk. Sementara Mas Budi sambil manyun mencoba menjelaskan bahwa Misi Computer hanya sekedar Penyewaan Komputer saja. Bukan sebuah Warung atawa Kafe Internet. So, gak bisa untuk Online mas.



Ada-ada aja. Setelah semua tadi kami berharap gak terlalu banyak masalah menggelikan dengan pelanggan lagi. Tapi memang kayaknya hari ini Misi Computer lagi ngetop, buktinya walaupun siang belum reda, tetap ada beberapa orang datang berbarengan, mungkin memang mau kasih job yang menguntungkan.

“Halo mas !”, sapa seseorang diambang pintu.
“Halo juga !”, sahut aku dan Made ramah.
“Siang mas”, sapa seseorang yang kelihatan lebih imut.
“Siang juga !”, sahut kami.
“Permisi mas”, Sapa seseorang yang lain lagi.
“Permisi juga !!”, sahut kami lagi.
“???”

Hehe, gak usah di bahas.

Ada beberapa tamu nih. Ternyata mereka temen-temen sekampusnya Mas Budi. Beberapa cewek beberapa yang lain cowok. Teman sekampusnya mas Budi?? Entah kenapa instingku berkata kalau bakal ada masalah lagi. :p

“Hei, halo Bud… !!!”, kata mereka hampir bersamaan ketika melihat sebentuk makhluk berjuluk mas Budi nongol dari ruang dalam. Sepertinya mereka memang bener-bener temen sekampus, senasib, seperjuangan. Dan kayaknya aku dan Made setelah ini bakal dicuekin deh. Dan doaku terkabul.
Selama beberapa menit ke depan, ruangan 3 x 7 meter ini serasa seperti Stadion Mandala Krida lagi dipake konser Slank. Rame banget. Tapi karena temen-temennya boss, aku gak enak juga mau bilangin, padahal ada pelanggan lain yang lagi sewa komputer. Dan pastinya pelanggan itu jadi terganggu. Makanya permainan solitairenya gak pernah menang.

“Piye Bud, Rental ini dah jadi milik kamu benaran ya.. wah hebat, Trus Edi kemana neeh ?”
“Iya, kok Cuma ada karyawan-karyawanmu yang culun itu”
“Iya, kayaknya mereka juga bukan dari kampus kita ya? Jangan-jangan bukan orang IT lagi”, kata cewek yang agak manis. Eh, enggak terlalu manis ding. Ah, lupa juga, soalnya dah waktu itu sih.
“Hehe.. Tapi komputer kan bukan cuma milik orang IT ya Bud…”, sahut yang lain.

Sialan, kami dibilang culun. Bukan orang IT. Mana bawa-bawa nama kampus lagi. Gini-gini juga kami kuliah di kampus yang SPP-nya paling murah se Jogja.

“Hehe.. dah biarin aja mereka !”, kata mas Budi selanjutnya. Memang bener-bener Boss yang ga bisa ditauladani, bukannya membela atau mengenalkan, malah ikut men-culun-kan kita.
“Si Edi gak tau kemana, janjian sama Dian mungkin”, lanjutnya.
“Loh katanya sama si Narto?”, kata yang lain.

Hahaha… mereka tertawa. Ribut banget.
Begitulah kita, seneng banget kalau ketemu temen-temen lama ya. Ya semoga saja, besok-besok kalau dah pada jadi orang gede gak lupain temen. Paling ga tidak melupakan lingkungan hidup dan masa lalu yang pernah menghiburmu. Bisa ???

“Mas Bud.. aku pinjam komputer ya. Mau ngeprin”, kata salah satu temen mas Budi. Lupa namanya siapa, sebut saja Juleha. Orang IT juga kayaknya.

“Pake aja komputer tengah itu”, kata mas Budi.

Ternyata si Juleha ini adik kelas mas Budi. Katanya sih baru semester awal gitu.
Sementara Juleha mencoba menyalakan komputer untuk persiapan pencetakan, yang lain masih ngobrol sana, ngobrol sini. Sampai ada tebak-tebakan lagi.

“Tau gak kenapa Batman dan Superman pada pake sayap tuh ?”, kata seorang cowok.
“Ya emang kostumnya kan?”, jawab temennya sok lugu.
“Kalau pake sarung ntar dikira Unyil”, kata yang lain. Agak lucu, tapi ternyata salah.
“Kalau pake tusuk, itu namanya sate”, jawab yang lain lagi gak kalah ngawur.
“Salah.. salah semua !”, kata yang punya tebakan, “Batman dan Superman pakai sayap kan biar gak tembus ke samping”, jawabnya asal.
Semua bengong… Jayuss…

Kadangkala anak-anak IT memang gak bisa bikin tebakan lucu.
“Oiya Bud, kapan kita makan-makan neh.. kan kamu dah jadi manajer di sini”, kata salah seorang cowok. Setelah kebengongan mereda.
“Yah kapan-kapan aja ya… Soalnya ini kan lagi musim ujian”. Mas Budi emang paling bisa bikin alasan kalau ditagih traktiran. Emang apa hubungannya traktir dengan musim ujian.
“Iya ya.. oiya Bud, memang kayaknya kita perlu memperdalam lagi neh pemrograman Clipernya. Biar TA kita pada mantap”. Nah, bener kan. Strategi mas Budi memang hebat. Entrepreneureship sejati. Teman-teman segera lupa target minta traktiran.

Dan pembicaraan mereka pun beranjak ke hal serius. Dari membicarakan tentang tugas kuliah yang super susah, gosipin dosen yang naksir mahasiswa hingga ngobrolin temen mereka yang lebih ngetop jadi artis ketimbang programer.

Di seberang sana, sepertinya Juleha dah selesai ngeprin.
“Mas Bud.. aku mau salin datanya ke disket ya. Bisa kan?”, katanya.
“Iya, bisa kok. Komputernya ada disk drivenya kan?”

Yang ditanya mengangguk sambil menyiapkan media dari kotak bekalnya. Sebuah disket 1.4” yang memang lagi trend banget saat ini. Warnanya pink cerah. Mungkin dia ga sadar, kalau pada kurun waktu ke depan, keberadaan media simpan ini mulai tergantikan oleh memory card, CD/DVD atau USB FlashDisk. Jadi se-funky apapun warna disketnya tetep akan kalah ngetop selepas milenium baru.
Perkembangan teknologi data memang cepat sekali ya. Kertas mulai digantikan dengan media penyimpanan data elektronik. Mungkin lama kelamaan KTP kita bisa berujud chip yang ditanamkan di jempol kaki.

“Kok disketnya gak bisa kebaca ya Mas ?”, kata Juleha sesaat kemudian.
“Ada warningnya ga?”, tanya mas Budi dengan sikap waspada.
“Katanya disketnya perlu diformat neh”, sahut Juleha sambil menunjukkan keterangan di layar monitor.
“Disketnya baru ya? Ya mungkin memang perlu kamu format dulu”, lanjut mas Budi.
“Iya sih, tadi baru aja beli. Ya udah diformat aja, gimana caranya ?”
“Lah masak lupa, kan itu pelajaran semester 1. Mestinya sudah dikasih kan?“, kata mas Budi.
Boss satu ini kadang merasa males kalau harus ngajarin hal-hal yang sudah berlalu. Tapi memang harusnya ga perlu diajarin seperti itu lagi sih. Katanya anak-anak IT (hehehe, dendam neh)

“Komputernya masih di mode DOS kan? Ya wis tinggal kamu tulis perintah untuk format kan?”
“Oiya.. bener, ya udah ku format ya..”
“Ya, sana !”, sahut mas Budi. Sambil bergaya menirukan akting bintang sinetron.

Dan, si Juleha mulai melakukan misinya di Misi Computer. Memformat disket barunya agar bisa ditulisi data.

“Eh, kalian bisa jawab ga? Siapa yang paling tau harga Alun-alun Kraton Jogja tuh !”, kayaknya para mahasiswa ini pada demen bener main tebakan.

Tapi memang jaman di Misi Computer itu gak pernah tuh mahasiswa pada demonstrasi kayak jaman sekarang. Bukan sok alim atau kenapa sih. Tapi memang rasanya gak ada yang mau didemoin, harga-harga mahal juga sih tapi masih pada terjangkau. Kayaknya jumlah pengemis di jalan raya dan di kantor-kantor kelurahan juga gak sebanyak sekarang. Makanya masih sempet tebak-tebakan. Gak peduli tebakannya lucu atau gak punya tingkat mutu sama sekali. Yang penting tebakan.

“Hei! Pada tau gak?!”, kata temen mas Budi yang kesel karena gak ada yang merespon tebakannya.
Sepertinya temen-temen yang lain pada gak mau tau. Kenapa juga pertanyaan model gitu. Emang siapa yang tau harga Alun-alun Kraton? Emang mau dijual?

“Tukang becak juga tau mas”, kata Made dan aku hampir bersamaan.

Yang punya teka-teki makin kesel. Harusnya kan bisa jadi tebakan lucu. Tapi kenapa dua anak culun ini bisa jawab, pikirnya.

“Eh, emang tukang becak tau harga Alun-alun Jogja? Kok bisa?”, tanya seorang temennya yang cewek pada kami. Kayaknya ni cewek emang gak cocok jadi anak IT.
“Kok lihatnya ke kita sih, lihat ke mas Budi dong, kan dia yang tukang becak”, kata Made asal. Sementara mas Budi melotot.

Setelah ber hehehe, nara sumber tebak-tebakan menerangkan.

“Iyalah, tukang becak pasti tau harga Alun-alun Jogja. Tanya aja ke dia, Pak Alun-alun Jogja berapa ya? Nanti pasti dijawab, bisa langsung ditawar lagi”.
Hahaha.. akhirnya pada ketawa, walaupun telat banget.

Yah begitulah, kadangkala kita harus memberikan tebakan atau cerita lucu pada hari Minggu jika pengen seseorang ketawa pada hari Rabu. Dan akhirnya aku dan Made diperhitungkan juga di komunitas anak-anak IT ini.



“Mas Budi.. komputermu kok jadi aneh gini sih?”, kata Juleha setelah beberapa saat.
“Kenapa? Formatnya dah selesai?”, kata mas Budi.
“Sudah kok, sudah beres trus tadi ku-reset. Kok sekarang windowsnya gak bisa?”, kata Juleha sedikit panik.

Mas Budi mulai ikut bertanya-tanya. Setengah panik tepatnya. Kok bisa? Pikirnya. Jangan-jangan Harddisknya rusak lagi. Padahal baru kemarin kita serviskan. Memang sih ni Harddisk dah termasuk berumur, tapi sebenarnya masih bisa dimanfaatkan dengan baik sebagai media simpan. Makanya, ada apa ya, kok tiba-tiba tidak merespon begini.

Mas Budi mencoba me-reboot sang komputer. Dan memang setelah beberapa saat layar monitor menampilkan pesan bahwa di komputer ini tidak terpasang sistem, sehingga belum bisa digunakan. Bagaimana mungkin, pikir mas Budi. Barusan kan masih bisa dipakai. Apa harddisknya mengalami gagal jantung parah ya?

“Tadi kamu apain sih?”, kata mas Budi selanjutnya.
“Gak diapa-apakan kok”, jawab Juleha pasti.
“Emang tadi kamu pencet-pencet tombol apa?”
“Loh.. cuman format doang kok? Kan untuk nyiapin disketku”
“Iya, tau.. Trus perintah fotmatnya gimana?”
“Ya… ku ketik aja FORMAT gitu. Bener kan?”, jawab Juleha agak ragu.

“FORMAT aja?! Terus kamu Enter?!”, tanya mas Budi mulai histeris. Aku dan Made juga menunggu saat-saat menakjubkan ini dengan antusias, plus setengah deg-degan.

“Ya enggaklah Mas. Masak perintah gitu aja aku gak tau… “, jawab Juleha.
“Fiuuh.. sukurlah. Trus tadi perintahnya gimana Jul?”, tanya Mas Budi. Ada nada sedikit lega dalam ucapannya.

“Tadi ku ketik FORMAT C: trus tekan Enter lalu jawab Y. Beres kan?”, jawab Juleha sambil tersenyum manis.

GUBRAKKK !!!!

Aku dan Made dah siap-siap kalau mas Budi pingsan mendadak. Siap-siap menghindar maksudnya. Dan mas Budi bener-bener histeris sekarang, sementara temen-temennya hanya bengong karena gak tau ada apa.

Hahahaha… Aku dan Made akhirnya ketawa guling-guling berdua.

“Whaaa… datakuuu !!! Anak sok tau! Malu-maluin aja !!!”, kata mas Budi berikutnya.

Hahahaha, maunya memformat disket. Akhirnya terformatlah Harddisk sang Big Boss.
Perintah FORMAT yang ditulis Juleha sih dah bener. Cuma Perintah Format C: artinya melakukan format pada direktori C (direktori sistem). Jika itu dilakukan maka sistem komputer akan dibersihkan. Nulis perintahnya bener tetapi tidak tepat untuk diterapkan.

Temen-temen IT kamu memang hebat mas. Hahaha. Untung saja mas Edi lagi gak ada di sini. Coba kalau ada. Ketawa plus guling-gulingnya bisa bertiga. Hahaha.

“Untung aku gak punya banyak duit mas, jadi gak kuliah di sana”, kata Made selanjutnya. Sambil tetep tertawa.
“Maksud kamu apa De..?!!”, kata mas Budi kesal.

Sementara temen-temen mas Budi kayaknya masih bingung, kenapa ya komputer mas Budi bisa rusak berat begitu.

“Pantes aja, orang disket Juleha masih di diskdrive gini. Coba direset lagi aja mas, nih disketnya dikeluarin dulu”, kata salah satu dari mereka.
“Ah, Mungkin cuma colokan powernya belum nancep bener Bud”, kata yang lain.
“Atau keyboardnya ! Kan sistem gak bakal jalan kalau keybordnya ga bener masangnya”, kata yang lain lagi.

Mas Budi tambah sebel. Kesel. Semoga hari cepet berlalu, doanya. Sambil mulai melangkah ke tempat biasa. Taman bermain sebelah kantor Misi Computer. Untung ayunan di sana masih kosong. Aku dan Made masih terbahak, ditemani kebengongan panjang para jagoan IT.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
◄Design by Pocket Distributed by Deluxe Templates