Kalian sudah akrab betul kan dengan dunia komputer atau biasa kita panggil kompi. Rasanya gak perlu jawaban. Semua dah tau. Semenjak kompi mulai ditemukan (setelah lama bersembunyi) dan mulai terasa manfaatnya untuk membantu (baca:menjajah) manusia, semenjak itu pula kita sudah ditantang untuk menguasai atau paling tidak bisa mengoperasikannya.
Saat ini susah sekali ditemukan kurikulum di sekolah mana yang tidak mencantumkan materi komputer di dalamnya. Dari tingkat dasar sampai tingkat lanjut, tidak peduli sekolah tersebut sudah memiliki komputer atau belum. Dinas Pendidikan Nasional telah mengeluarkan “perintah” agar sekolah-sekolah mencantumkan materi tentang komputer (Teknologi Informasi) pada kurikulum masing-masing. Bahkan, pada sekolah-sekolah di daerah terpencil telah mulai dikenalkan tata cara penggunaan komputer.
Sebentuk komputer bisa menjadi barang paling keramat di sekolah mereka. Dalam satu sekolah bersiswa lebih dari 200 anak kadang hanya memiliki sebuah komputer untuk siswa, bayangkan bagaimana para pejuang pendidikan yang bergaji sedang itu harus berjibaku melayani para pemakainya. Bergaji sedang?? Iya.. sedang diurus maksudnya.
Kita yang terbiasa hidup di lingkungan berbeda gini, mungkin ga pernah mengalami nasib setragis itu.
Aku jadi teringat pas jaman SMP. Semenjak kelas 1 (kelas 9), pak kepala sekolah sudah bercerita bahwa untuk pekerjaan yang lebih efektif dan efisien, sekarang sudah ada komputer. Sudah ada di toko, maksudnya.
Dan saat memasuki kelas 2 SMP aku hanya mengenal komputer lewat majalah atau selebaran dari Toko Komputer yang sampai di Sekolah. Untung saja begitu masuk kelas 3 ada temen baru yang cukup punya. Jadi bisa ngajarin kami main Pacman atau sekedar memformat disket.
Saat ini, di Jogja khususnya. Komputer sudah seperti kacang goreng. Laris manis. Bisa dicari di mana saja. Coba saja kalian cari. Dari ujung selatan Pantai Parangtritis sampai utara puncak Kaliurang sana, pasti ada yang punya.
Ya jelang dos…!!
Oia, Ngobrol-ngobrol masalah kemampuan berkomputer, di Misi Computer pada punya kemampuan aneh lho.
Aku sih biasanya tukang corat-coret dan gambar dengan komputer. Kalau sudah di suruh gambar, pasti mau. Gak peduli yang nyuruh itu cewek cantik atau cewek manis. Tapi kalau duit lagi cekak, dan agar dapat gaji lebih, kadangkala aku bantuin ngetik juga di Misi Computer. Dengan kemampuanku mengetik 11 jari. Lumayanlah kadang bisa menyelesaikan 4 halaman ketikan di kertas A4 dengan jarak 1,5 spasi dalam 2 hari.
Made, satu kelas denganku di sebuah universitas negeri di Jogja. Kami sama-sama mahasiswa yang diundang kampus tersebut untuk ikut program PBU (penelusuran bibit unggul) dan lolos. Dengan program ini kami ga perlu ikut tes ujian masuk yang seperti arena balap kuda itu (karena kadang ada joki). Kami juga bisa masuk kuliah tanpa harus membawa nama-nama seseorang atau lewat atap manapun. Nilai kami dinyatakan lolos untuk berkuliah tanpa harus tes lebih lanjut, hebat ya…
Lalu, kami berdua termasuk … STOP !!! ini perkenalan apa mau sombong ??!!!
Hehe.. ya sudahlah yang jelas si Made tuh suka banget bikin program komputer. Pake bahasa program apapun. Tak terkecuali bahasa isyarat. Anak Bali asli Sulawesi ini kalau dah bikin program komputer suka lupa. Lupa ngabisin minum atau makanan punya temen. Tapi yang lebih aneh, dia biasa menyelesaikan program dengan bersenandung ria. Malah kadangkala dia bikin program sambil berkaraoke. Dari lagunya Koes Plus sampai Campursari. Kadang lagu rock, kadang lagu ska. Skarepe dhewe !
Beda lagi dengan Mas Edi. Dia adalah makhluk bumi paling usil. Kalau dilihat sekilas, tampangnya serem bener, tapi kalau dua kilas kadang lebih serem. Jadi kalau melihat dia harus berkilas-kilas akhirnya ilang tampang seremnya, yang ada sifat isengnya. Seberapa iseng sih? Dia tuh demen nukar-nukar atau ubah-ubah nama orang seenaknya. Dia tuh suka ngajarin lagu-lagu yang ga pernah kita kenal sebelumnya. Yang ternyata lagu karangan dia sendiri dan gak pernah laku dipasarkan. Tapi jangan salah, mas Edi tuh walau kadang jadi playboy tidak terkenal, ternyata punya kemampuan analisis tugas akhir teknologi perkomputeran yang hebat lho... Dia bahkan telah menyelesaikan 3 tugas akhir dan meluluskan temen-temennya dengan tugas akhir itu tanpa sekalipun ketemu dosen pembimbingnya. Kemampuan itulah yang kadang bikin keder cewek yang didekatinya, hehe.
Joko, adalah adik kelas mas Edi, mas Aan dan mas Budi di salah satu kampus swasta di Jogja. Dia termasuk adik kelas yang beruntung karena bisa gabung di komunitas kakak-kakak kelasnya yang ga bertanggungjawab ini. Dia adalah karyawan yang super sibuk dan super rajin diantara kami semua. Karenanya dia yang kadang harus rela dan suka cita menyelesaikan tugas-tugas yang sering kami tinggal pergi karena urusan mendesak (baca: males).
Mas Anto atau kadang dipanggil mas Aan. Punya kemampuan hebat di luar kami semua. Disuruh ngetik kadang lupa letak tombol huruf A. Diminta gambar, kadang salah jumlah klik mouse. Tapi dia hebat memanajemen agenda kerjanya. Hebat dalam mengatur waktu. Mmm… Maksudnya agenda kerja bhakti di tempat calon mertua dan mengatur waktu ngapel. Jadi cuma beliaulah satu-satunya warga Misi Computer yang sudah memiliki bidadari. Hehe.. tapi mas Aan adalah salah satu crew yang anti dengan kalimat malu dalam berusaha dan mau bekerja keras. (Hehe, aku takut kalau dianya protes). Tapi bener kok, apapun pernah dia jalani agar jadi orang berhasil. Dari ikut dagang pizza di Pizza Hut sampai jualan knalpot di Knalpot Hot pun pernah dia lakukan.
Terus Mas Budi. Apa ya? Kayaknya dia melebihi kami semua. Mau tau? Ikuti aja cerita ini.
***
Waktu itu sekitar pukul 14.15. Panas banget. Kaos ini terasa tambah lembab aja. Tapi mau gimana lagi, kipas angin super di atas inipun rasanya ga bisa bantuin ngurangin gerah. Paling-paling nambah kekawatiran akan keselamatan kami, karena ukuran kipas yang terlalu besar ini. Atau paling-paling menambah pengeluaran biaya aja kata mas Budi yang "boss" itu.
Siang ini kami memang pas lagi iseng. Mumpung pada kumpul, kami bikin rapat singkat. Lebih tepatnya yang bikin rapat itu mas Budi, katanya sih mau ngobrol masalah keadaan kantor sampai detik ini. Walaupun belum semua warga kantor datang, paling ga ini sudah cukup memenuhi kuota, itu kata "big boss". Ada 6 makhluk penghuni Rental Komputer ini yang lagi ngumpul saat itu.
"Kita mestinya mengkaji ulang pemanfaatan alat yg terlalu boros !"
Di ujung ruangan dekat pintu masuk, di belakang meja yang ga pernah rapi, mas Budi memulai pembicaraan. Sementara itu, di depan komputer nomor 1, beberapa jengkal dari tempat mas Budi duduk, Mas Aan terlihat menahan kantuk. Sambil mendengarkan dia berusaha menyelesaiakan ketikan yang diambil sore nanti. Di sebelahnya, Lina sang pacar berusaha menunjukkan kesetiaannya dengan pura-pura ikut ngantuk juga. Saat itu dia mengenakan baju berwarna pink dengan tulisan sablon besar di belakang “Lian Forever!”. Kata mereka kependekan dari Lina dan Anto. Kreatif juga ya, padahal menurutku kayaknya akan lebih cocok kalau disingkat “Linanto !”
Di ujung utara Made juga keliatan sangat asik menyelesaiakan tugas program komputer. Dia lagi bereksperimen bikin counter dengan bahasa C. Padahal bahasa A dan bahasa B belum juga diajarkan,hehe..
Studi kasus yang dijadikan tugas kampus oleh dosen kami adalah mencacah jumlah kambing dalam kandang. Jadi suatu hari nanti mungkin komputerisasi sudah bener-bener melanda kehidupan kita. Para peternakpun pasti akan menggunakan Sistem Informasi Manajemen yang relevan dengan peternakan mereka. Misalnya saja komputerisasi penghitung jumlah kambing mereka yang telah kembali ke kandang sehabis di gembala oleh robot. Dasar, kebanyakan berkhayal.
Tapi jangan kaget ya kalau di tahun-tahun mendatang ada kursus komputer khusus kambing !
Kembali ke Misi Computer…
Saat itu aku lagi sibuk bantuin mas Edi nyari kaset Koes Plus yang nyelip entah kemana. Rencananya siang ini kami mau puter keras-keras tuh kaset biar menghidupkan suasana.
"Sebentar-sebentar… maksudnya boros tadi itu gimana?", tanya Mas Edi yang posturnya tinggi gedhe. Sesekali dia tengak tengok ke atas rak buku, untuk memastikan kasetnya tidak nyelip di sana. Tangan kirinya membawa sebungkus es teh, tangan kanan menggenggam 2 kerupuk. Sementara 2 mangkok mie ayam yang telah kosong karena hasil perbuatannya, masih terlihat di sudut meja.
"Kalian kan tau, beberapa bulan ini keuangan rental kita agak seret, untuk menjaga kestabilan ekonomi, pertahanan, keamanan dan kehidupan kita, alat-alat yang memakan banyak biaya mestinya kita kaji lagi perlu apa enggaknya", Lanjut mas Budi.
"Misalnya apa mas ?", kata Made dari pojok ruangan tanpa melihat sedikitpun pada big boss. Maklum, tangan dan otaknya masih berupaya sinkron untuk menyelesaikan tugas pemrograman yang telah tertunda 3 hari.
"Misalnya dalam pemakaian listrik, kalo memang ga sangat perlu ya jangan pake listrik ! Kalian kan bisa bersihin ruangan pake sapu, jadi ga perlu vacuum cleaner yang boros listrik itu.."
"Kalo gitu gimana kalo ga usah pake komputer sekalian, lebih irit tuuh.. kalo cuma ngetik kan bisa pake mesin ketik manual..", kata Mas Edi.
"Ato pake Rugos ya mas... ", sahut Made yang tetep aja cuek sambil ngerjain tugas. Hehehe.. Semua ketawa kecuali Lina yang ketiwi (karena cewek) dan mas Budi yang tambah sebel.
Rugos..?? hehe.. aku jadi inget pas lagi boomingnya huruf tempel itu, hampir semua temen sekelas bikin sampul kliping pake rugos yang aneh-aneh.. biar keren maksudnya. Iya sih.. Tapi lama-lama jadi alasan kalo tugasnya ga rampung, tinggal bilang kalo rugosnya lagi abis.
"Ini serius temen-temen, bukan masalah jangan pake listriknya, kerjaan kita kan harus pake komputer ya tetep pake listrik dong, tapi gunakan dengan bijaksana", Kayaknya mas Budi mulai menerapkan dengan sungguh-sungguh ilmu manajemennya yang telah ditekuni 7 semester itu. Eh, D3 itu berapa semester sih ?
"Trus..??", tanya mas Aan. Kayaknya dia masih aja ngantuk walau penasaran dengan maksud mas Budi. Maklumlah semalam dia tugas ronda di kampung ceweknya..(lho ?) Itu katanya salah satu kewajiban yang harus dijalankan jika masih ingin ngekos di tempat calon mertua.
"Terus, kalau kerja jangan kebanyakan becanda, apalagi ngantuk ! Kalau salah cetak kan kita rugi kertas..!"
"Terus..?!!", tanya mas Aan lagi dengan agak mendelik sewot, karena kesindir.
“Oiya.. tolong ya kalian bedakan antara pekerjaan yang penting dan yang ga penting. Yang mendesak dan yang tidak mendesak. Jadi pelanggan akan senang kalau kita profesional. Masak iya komputer kantor yang harusnya untuk menyelesaikan pekerjaan dari pelanggan malah untuk menulis surat cinta, kan ga efektif…”
“Kamu nyindir aku ya… bilang aja ngiri karena ditolak si Warsi !”, Sahut mas Edi.
Mas Budi dongkol.
"Ya, pokoknya kalian pikir sendirilah apa yang mesti dilakukan untuk menekan biaya pengeluaran yang ga perlu... Kalian kan pada ahli tuh masalah tekan menekan dan masalah kerja dengan komputer.”
“Oia.. Katanya monitor komputer itu kan bagian paling boros listrik toh ? Nah.. Jika perlu, kalau pas ada job ketikan, mungkin sekali-kali kalian coba ngetik tanpa monitor. Biar ngirit listrik ! Ga percaya? Tanya aja Edi tuh… hehehe..."
Aku jadi inget, Mas Edi kan emang jago masalah ilmu menggaet cewek. Pernah suatu ketika dia nulis surat cinta dengan komputer. Biar hasilnya bisa dikirim ke banyak target katanya. Atau dalam istilah email Blind Copy Carbon. Karena takut dibaca temen-temen, monitor kompi dia matikan sambil terus menulis rayuan gombalnya.
Si Boss senang sekali mendapati tingkah mas Edi karena dipikirnya nih anak kreatif juga. Menyelesaikan job dari pelanggan sambil ngirit listrik. Mas Budi gak tau kalau mas Edi ngetik “tanpa monitor” itu bukan untuk ngirit listrik, tapi biar ga ketauan lagi nulis rayuan untuk … (hehe.. ga jadi ah !).
Mas Budi baru sadar saat hasil tulisan nongol di printer. Bukan ngirit neh, malah tambah boros kertas. Karena mas Edi bakal mengirim surat itu untuk beberapa targetnya. Sekali ngetik 23 surat cinta tercetak, hahaha…
Lalu entah maksud mas Budi siang ini serius apa bercanda. Meminta kita mengetik tanpa monitor? Ga Lucu dunk! Dan yang jelas saat itu yang mencoba ketawa cuma dia. Gariiing...
"Hahaha... lucu !", sahut Wahono, penjual mie ayam yang biasa lewat di lingkungan Jalan Gejayan sini. Saat itu dianya lagi nongol di depan pintu.
"Hei ngapain kamu ikut-ikutan? Sana pergi!", bentak mas Budi dengan kejam, sambil menutupi kegaringannya.
"Tenang mas, Ini juga mau pergi, tinggal nunggu bayarannya bos Edi kok", kata Wahono sambil menunjuk mangkok mie ayam di sudut meja. Ya, mangkok-mangkok korban kepiawaian mas Edi.
"Eh iya hampir lupa. Nih ! Sori ya recehan, hasil ngamen kemaren sih. Eh, sisanya buat kamu aja !", kata mas Edi buru-buru.
"Makasih bos… Eh, sisa apaan ? Ini kurang 200 !"
"Maksudku sisa kuah mienya buat kamu. Kurangnya besok aja ya, tanggung nih! Dah sana!"
"Ah, payah si Bos! Besok harus lunas loh !" kata Wahono sambil manyun dan berlalu.
Dasar mas Edi, semua makhluk kayaknya ga bisa lepas dari kerjaan usilnya. Nama Wahono itu pun sebenernya dia yang ngarang. Hampir semua orang yang dia kenal punya nama versi dia. Sampe hari inipun kami ga pernah tau nama asli abang tukang mie ayam itu. Karena kadangkala mas Edi memanggilnya Wahono, kadang memanggilnya Ada Band.
Hehe, kok bisa? Menurut mas Edi, Wahono tuh mirip Baim, mantan vokalisnya Ada Band tuh…
Tapi si abang sante aja, malah kadang bangga dimiripin orang top. Apalah arti sebuah nama, katanya suatu ketika.
"Kita kan ga bisa dinilai dari nama, yang penting saling menghormati, sukur-sukur bisa punya manfaat bagi yang lain. Kita kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing", kata Wahono yang kadang juga bisa mirip Aa Gym.
Dan itulah yang jadi bumerang, karena kami sering memakai pepatah "Apalah arti nilai rupiah, kita kan punya kelebihan dan kekurangan !". Tapi kayaknya kami lebih sering kurang.
"Ya sudah, kita lanjutkan ya teman-teman. Ada pendapat ?", kata mas Budi sesaat kemudian.
"Hei.. Ada !, ada nih mas...!!", kataku dari ruang dalam. Saat itu barang yang dari tadi aku cari bareng mas Edi akhirnya ketemu juga. "Mas Edi.. ada nih di sini.. akhirnya ketemu juga kaset kita…"
"Bagus-bagus, kamu simpen dulu, nanti kita puter pas sudah datang pelanggan.. Kerja bagus Yud !", sahut mas Edi sambil manggut-manggut.
Kaset album kenangan Koes Plus sudah menjadi harta tersendiri bagi kami. Kata Mas Edi sih kaset itu dah dari taon 1970-an.. dah tua sih tapi masih sering kita puter. Kalian bisa bayangin bagaimana kualitas suaranya. Jauh bener dari kata HiFi. Tapi itu bukan soal, yang penting masih keluar bunyinya. Dan ga tau kenapa, kami suka lagu-lagu Koes Plus. Mungkin karena sederhana banget kali ya, ga perlu banyak mikir. Tapi kadang isinya bener-bener terjadi di kehidupan kita sehari-hari.
Akhirnya ketemu juga tuh kaset. Rupanya tadi terselip diantara hatiku dan hatimu.. eh, maksudnya diantara Majalah-majalah lama, mungkin kemaren terjatuh.
"Ediii ! Yudhiii ! …Dasar ! Kita ini lagi rapat, serius dikit dong !!", Kayaknya emang mas Budi sudah makin sewot.
"Ya sudahlah, pokoknya keputusan hari ini, aku akan mengurangi penggunaan barang-barang yang termasuk pemborosan.”
Kami semua terdiam menunggu penjelasan mas Budi.
“Nanti vacuum cleaner itu disimpan dulu saja. Untuk kebersihan ruangan pake saja sapu ini. Tadi sudah kubelikan sapu-sapu kecil neh, biar mudah nyimpannya juga. Lalu untuk bersihin meja dan perangkat komputer dari debu pakai saja tuh baju-baju bekas di dalam untuk lap. Tapi cari yang masih bersih, atau kalau perlu dicuci dulu…”, kata mas Budi.
Saat itu sebagian dari kami melirik baju yang dipakai mas Budi, siap untuk dijadikan target.
“Pokoknya ga usah pada protes karena untuk kebaikan bersama! Biar ga terlalu boros!”
“Oiya terus itu.. kipas angin yang di atas nih. Kayaknya terlalu besar, mestinya pake yang kecil aja. Tuuh pake aja yang ada di kamar!", lanjutnya.
"Eh mas, Tapi kalau pake kipas yang itu sama aja borosnya dong, mendingan nanti pinjam ayamnya Cak Basit aja gimana?", kataku.
"Maksudnya..?", tanya mas Budi bingung.
"Ya, diikat aja di atas. Nanti pasti ayamnya kelabakan terus. Nah mirip kipas angin kan mas? Ngirit juga !", jawabku asal.
Hua haha..
Sekarang semuanya bener-benar ketawa tanpa kecuali. Termasuk Wahono, si penjual mie Ayam. Padahal dia sudah di seberang jalan sana.
***
Semenjak kejadian itu, mas Budi bener-bener menerapkan hasil rapat. Vacuum cleaner disimpan rapi di lemari. Sebagai gantinya dia sudah siapin sebuah sapu kecil. Jika memungkinkan dia juga ngetik tanpa menyalakan monitor komputer. Tentu saja sambil bersenandung bangga dengan kemampuan barunya.
Sebetulnya kami sangat heran dan kagum dengan kemampuannya. Kok bisa mengetik dengan komputer tanpa menyalakan monitor. Dan hasil ketikannya ga ada yang salah lagi. Tapi kami jauh lebih heran, kok ada ya pimpinan yang pelit gitu. Jangan-jangan saranku untuk mengganti kipas angin dengan ayamnya cak Basit bakal diikuti juga.
"Siapa itu, O ku tak tau, O.. siapa itu, O ku tak tau..."
Mas Budi sang Big Boss bersenandung menirukan gaya Koes Plus-nya mas Edi. Saat itu beliaunya lagi mengetik dengan 10 jari tanpa menyalakan monitor. Sementara yang lain juga menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing.
Tiba-tiba dari balik pintu belakang nongol cak Basit, penjual sate sebelah kantor.
"Bud, kamu lihat ayamku ga ?!"
Haaa...hh kami bener-bener tersentak.
Jumat, 12 Maret 2010
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)





0 komentar:
Poskan Komentar